Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora <p>Anafora diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kuningan. Kami ingin meningkatkan kualitas penelitian yang dilakukan oleh mahsiswa D3, S1, S2, dan S3 yang butuh muara akhir dari penelitian yaitu publikasi ilmiah dalam jurnal yang terakreditasi Sinta 4. Mahasiswa sebagai peneliti pemula kami wadahi sebagai bentuk apresiasi dari proses mereka belajar dalam meneliti. </p> Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU id-ID Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2807-3991 <div class="flex-shrink-0 flex flex-col relative items-end"> <div> <div class="pt-0"> <div class="gizmo-bot-avatar flex h-8 w-8 items-center justify-center overflow-hidden rounded-full"> <div class="relative p-1 rounded-sm flex items-center justify-center bg-token-main-surface-primary text-token-text-primary h-8 w-8"> </div> </div> </div> </div> </div> <div class="group/conversation-turn relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn"> <div class="flex-col gap-1 md:gap-3"> <div class="flex max-w-full flex-col flex-grow"> <div class="min-h-[20px] text-message flex w-full flex-col items-end gap-2 whitespace-normal break-words [.text-message+&amp;]:mt-5 overflow-x-auto" dir="auto" data-message-author-role="assistant" data-message-id="240287c7-8b9b-4486-8618-f445d54ec050"> <div class="flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[3px]"> <div class="markdown prose w-full break-words dark:prose-invert light"> <p>Berikut adalah perubahan teks menjadi lisensi CC-BY-SA:</p> <hr /> <p>Penulis yang menerbitkan artikel dalam <em>Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra</em> menyetujui persyaratan berikut:</p> <p data-start="25" data-end="46"><strong data-start="25" data-end="46">Anda bebas untuk:</strong></p> <ul data-start="47" data-end="345"> <li data-start="47" data-end="171"> <p data-start="49" data-end="171"><strong data-start="49" data-end="60">Berbagi</strong> — menyalin dan mendistribusikan ulang materi dalam media atau format apa pun, termasuk untuk tujuan komersial.</p> </li> <li data-start="172" data-end="345"> <p data-start="174" data-end="345"><strong data-start="174" data-end="190">Mengadaptasi</strong> — mengubah, mencampur, dan mengembangkan materi, termasuk untuk tujuan komersial.<br data-start="272" data-end="275" />Kebebasan ini tidak dapat dicabut selama Anda mematuhi syarat lisensi.</p> </li> </ul> <p data-start="347" data-end="365"><strong data-start="347" data-end="365">Dengan syarat:</strong></p> <ul data-start="366" data-end="754"> <li data-start="366" data-end="521"> <p data-start="368" data-end="521"><strong data-start="368" data-end="380">Atribusi</strong> — beri kredit yang sesuai, sertakan tautan lisensi, dan beri tahu jika ada perubahan. Tidak boleh menyiratkan dukungan dari pemberi lisensi.</p> </li> <li data-start="522" data-end="633"> <p data-start="524" data-end="633"><strong data-start="524" data-end="541">BerbagiSerupa</strong> — jika Anda mengubah materi, Anda harus mendistribusikan hasilnya dengan lisensi yang sama.</p> </li> <li data-start="634" data-end="754"> <p data-start="636" data-end="754"><strong data-start="636" data-end="662">Tanpa batasan tambahan</strong> — tidak boleh menambahkan pembatasan hukum atau teknologi yang melanggar ketentuan lisensi.</p> </li> </ul> <p data-start="756" data-end="768"><strong data-start="756" data-end="768">Catatan:</strong></p> <ul data-start="769" data-end="1006" data-is-last-node="" data-is-only-node=""> <li data-start="769" data-end="898"> <p data-start="771" data-end="898">Anda tidak wajib mematuhi lisensi untuk elemen yang sudah berada di domain publik atau yang penggunaannya diizinkan oleh hukum.</p> </li> <li data-start="899" data-end="1006" data-is-last-node=""> <p data-start="901" data-end="1006" data-is-last-node="">Tidak ada jaminan hak tambahan seperti hak privasi, publisitas, atau moral yang dijamin oleh lisensi ini.</p> </li> </ul> </div> </div> </div> </div> </div> </div> NOVEL SANG ALKEMIS KARYA PAULO COELHO PENCARIAN HARTA KARUN YANG TAK TAMPAK: ANALISIS SIMBOLISME DAN FILOSOFI SERTA RELEVANSINYA DENGAN KEHIDUPAN MANUSIA https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/333 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Novel merupakan sebuah karya imajinatif yang sarat akan pelajaran hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji simbol-simbol tersirat serta memahami eksistensial mengenai Tuhan dan diri manusia dalam novel Sang Alkemis, karya Paulo Coelho serta menemukan relevansi simbolisme dan filosofi-nya dengan kehidupan manusia. Penelitian ini merupakan salah satu penelitian sastra dengan mengkaji sebuah novel. Salah satu teori sastra yang menjadi dasar penulisan karya tulis ilmiah ini yaitu teori sastra menurut Wellek dan Warren (2016: 109) bahwa sastra adalah sebuah gambaran kehidupan. Di dalam karya-karya sastra terdapat nilai-nilai yang bemanfaat bagi kehidupan manusia. Pengumpulan data dilakukan dengan metode kualitatif yaitu studi pustaka dan dianalisis melalui metode analitis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol utama yang ditemukan penulis seperti, tokoh-tokoh yang bijaksana, batu urim dan tumim, hewan pengelana, padang pasir, serta alkimia tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis dalam karya sastra, tetapi juga menyampaikan pesan bermakna. Filosofi yang diangkat antara lain, keinginan berkelana atau pencarian jati diri, cinta, mimpi dan impian, hubungan dengan Tuhan (Spiritual) atau eksistensi Tuhan, dan harta karun. Filosofi ini memiliki keterikatan dengan simbolisme yang ada. Relevansi simbolisme dan filosofi dalam novel Sang Alkemis dengan kehidupan manusia terletak pada kemampuannya mengajarkan nilai-nilai universal yang tetap kontekstual dalam kehidupan manusia modern. Dengan demikian novel bukan hanya karya sastra semata, tetapi juga sebagai refleksi filosofis tentang kehidupan manusia.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>simbolisme; filosofi; relevansi</em></p> <p> </p> <p>&gt; </p> <p><strong>THE SEARCH FOR INVISIBLE TREASURE IN PAULO COELHO’S THE ALCHEMIST: AN ANALYSIS OF SYMBOLISM, PHILOSOPHY, AND ITS RELEVANCE TO HUMAN LIFE</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>A novel is an imaginative work rich in life lessons. This study aims to examine the implicit symbols and understand the existential aspects concerning God and human selfhood in Paulo Coelho’s novel <em>The Alchemist</em>, as well as to discover the relevance of its symbolism and philosophy to human life. This research constitutes a literary study focused on the analysis of a novel. One of the literary theories underlying this scholarly work is the theory by Wellek and Warren (2016, p. 109), which posits that literature is a reflection of life. Within literary works, there are values beneficial to human existence. Data collection was conducted using a qualitative method—specifically, a literature review—and analyzed through a descriptive-analytical approach. The results indicate that the primary symbols identified, such as the wise characters, the Urim and Thummim stones, the wandering animals, the desert, and alchemy, do not merely serve as aesthetic elements within the literary work, but also convey meaningful messages. The core philosophies raised include the desire to wander or the quest for self-identity, love, dreams and aspirations, the relationship with God (spirituality) or the existence of God, and treasure. These philosophies are intrinsically linked to the existing symbolism. The relevance of the symbolism and philosophy in <em>The Alchemist</em> to human life lies in its ability to teach universal values that remain contextual to modern human life. Thus, a novel is not merely a literary work, but also a philosophical reflection on human existence.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>symbolism, philosophy, relevance</em></p> <p> </p> Maria Korsini Fausta Dua Djereng Djereng Petrus Afendi Martina Mas Hak Cipta (c) 2026 Maria Korsini Fausta Dua Djereng Djereng, Petrus Afendi, Martina Mas https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 273 280 10.25134/ajpm.v6i2.333 DEKONSTRUKSI NARASI PENDIDIKAN DALAM POSTMODERNISME LYOTARD PADA NOVEL KAMI (BUKAN) SARJANA KERTAS https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/321 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian ini berangkat dari kajian sastra sebagai representasi kehidupan sosial serta adanya kesenjangan penelitian yang masih jarang membahas kritik terhadap sistem pendidikan dalam perspektif postmodernisme Jean-François Lyotard. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk dekonstruksi narasi besar pendidikan dalam novel <em>Kami (Bukan) Sarjana Kertas</em> karya J.S. Khairen. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui pembacaan mendalam dan pencatatan kutipan relevan dari teks novel. Analisis data menggunakan teori postmodernisme Lyotard, khususnya konsep penolakan terhadap narasi besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini mendekonstruksi keyakinan bahwa pendidikan tinggi merupakan satu-satunya jalan menuju kesuksesan, serta menampilkan ironi berupa ketimpangan sosial dalam dunia akademik dan parodi terhadap birokrasi kampus. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa makna kesuksesan bersifat plural, tidak tunggal, dan dibentuk oleh berbagai narasi kecil yang menantang kebenaran absolut dalam sistem pendidikan.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>dekonstruksi; ironi; novel; parodi; pendidikan; postmodernisme</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>POSTMODERNISM LYOTARD: DECONSTRUCTION, IRONY, PARODY OF EDUCATIONAL NARRATIVES IN THE NOVEL <em>KAMI (BUKAN) SARJANA KERTAS</em></strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study departs from the view that literature reflects social reality and identifies a research gap in previous studies that rarely examine criticism of the education system from Jean-François Lyotard’s postmodern perspective. The aim of this study is to identify forms of deconstruction of the grand narrative of education in <em>Kami (Bukan) Sarjana</em> Kertas by J.S. Khairen. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through in-depth reading and note-taking of relevant textual excerpts from the novel. The data were analyzed using Lyotard’s postmodern theory, particularly the concept of the rejection of grand narratives. The findings show that the novel deconstructs the belief that higher education is the only path to success, presents irony in the form of social inequality in academic life, and uses parody to criticize campus bureaucracy. The study concludes that the meaning of success is plural, non-fixed, and constructed through multiple small narratives that challenge absolute truths in the education system.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>deconstruction; education; irony; novel; parody; postmodernism</em></p> anisti nurmarfua alfiana salsasagita faradila dwimentari putrisakinatul sa’adah rahma hidayahadhani sabrina az-zahra Hak Cipta (c) 2026 anisti nurmarfua, Alfiana Salsa Sagita, Fara Dila Dwi Mentari, Putri Sakinatul Sa’adah, Rahma Hidayah Adhani, Sabrina Az-Zahra https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 323 333 10.25134/ajpm.v6i2.321 REPRESENTASI PERSAHABATAN DALAM FILM ANIMASI JUMBO KARYA RYAN ADRIANDHY https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/330 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi persahabatan dalam film animasi <em>Jumbo</em> karya Ryan Adriandhy dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif karena data yang dianalisis berupa dialog, adegan, tindakan tokoh, dan peristiwa dalam film. Sumber data utama penelitian ini adalah film animasi <em>Jumbo</em> karya Ryan Adriandhy. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak dan catat, yaitu menyimak film secara berulang, mencatat adegan dan dialog yang memuat nilai persahabatan, kemudian mengklasifikasikan data berdasarkan kategori dukungan emosional, sumber kepercayaan, ruang rekreasi, dan pengembangan diri. Teknik analisis data menggunakan deskriptif analisis dengan tahapan identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film animasi <em>Jumbo</em> merepresentasikan persahabatan melalui empat bentuk utama, yaitu dukungan emosional sebanyak 9 data, sumber kepercayaan sebanyak 9 data, ruang rekreasi sebanyak 10 data, dan pengembangan diri sebanyak 15 data. Bentuk pengembangan diri menjadi temuan paling dominan karena persahabatan dalam film ini tidak hanya ditampilkan sebagai hubungan kebersamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mendorong tokoh untuk berani, bertanggung jawab, menyadari kesalahan, dan berubah menjadi lebih baik. Dengan demikian, film animasi <em>Jumbo</em> merepresentasikan persahabatan sebagai nilai sosial yang membentuk karakter dan relasi antarmanusia yang positif.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>Film animasi; Jumbo; persahabatan; representasi; sosiolog sastra</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>A REPRESENTATION OF FRIENDSHIP IN THE ANIMATED FILM <em>JUMBO</em> BY RYAN ADRIANDHY</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study aims to describe the representation of friendship in the animated film <em>Jumbo</em> by Ryan Adriandhy using a sociology of literature approach. This research employs a descriptive qualitative method because the analyzed data consist of dialogues, scenes, character actions, and events in the film. The primary data source is the animated film Jumbo by Ryan Adriandhy. The data were collected through observation and note-taking techniques by watching the film repeatedly, recording scenes and dialogues containing friendship values, and classifying the data based on four categories: emotional support, source of trust, recreational space, and self-development. The data were analyzed using descriptive analysis through identification, classification, interpretation, and conclusion drawing. The results show that the animated film <em>Jumbo</em> represents friendship through four main forms: emotional support with 9 data, source of trust with 9 data, recreational space with 10 data, and self-development with 17 data. Self-development is the most dominant finding because friendship in the film is not only portrayed as togetherness but also as a social force that encourages characters to be courageous, responsible, aware of their mistakes, and willing to change for the better. Therefore, the animated film Jumbo represents friendship as a social value that shapes character and positive human relationships</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>Animated film; friendship; Jumbo; representation; sociology of literature</em></p> <p> </p> Arvinna Ryandita Merly Akhmad Fauzan Eko Sri Israhayu Mulasih Hak Cipta (c) 2026 Arvinna Ryandita Merly, Akhmad Fauzan, Eko Sri Israhayu, Mulasih https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 292 299 10.25134/ajpm.v6i2.330 KETIDAKLANGSUNGAN EKSPRESI DAN PEMAKNAAN HERMENEUTIK DALAM NARASI PENGIRING TARI KELING PONOROGO https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/318 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk ketidaklangsungan ekspresi serta pemaknaan dalam narasi pengiring Tari Keling Ponorogo dengan menggunakan pendekatan semiotika Michael Riffaterre. Data penelitian berupa teks narasi pengiring Tari Keling dan hasil wawancara dengan informan yang telah memahami kesenian tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi pengiring Tari Keling mengandung bentuk ketidaklangsungan ekspresi yang meliputi penggantian makna <em>(displacing),</em> penyimpangan makna <em>(distorting),</em> dan penciptaan makna <em>(creating of meaning). </em>Ketiga bentuk tersebut menunjukkan bahwa makna dalam narasi tidak disampaikan secara langsung, melainkan melalui sistem tanda yang memerlukan proses penafsiran. Selain itu, melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik, ditemukan bahwa makna dalam narasi tidak hanya bersifat literal, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kehidupan, kepercayaan, dan budaya masyarakat yang berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat setempat. Dengan demikian, narasi pengiring Tari Keling tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari pertunjukan, tetapi juga sebagai media yang merepresentasikan sistem makna yang hidup dan diwariskan dalam masyarakat.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>ketidaklangsungan ekspresi; Riffeterre; semiotika; Tari Keling</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>INDIRECT EXPRESSION AND HERMENEUTIC MEANING IN THE NARRATIVE ACCOMPANIMENT OF KELING DANCE</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study aims to examine the forms of indirect expression and meaning construction in the narrative of the Keling Dance accompaniment in Ponorogo using Michael Riffaterre’s semiotic approach. The data consist of the narrative text of the Keling Dance accompaniment and interview results with informants who are familiar with the performance. This research employs a qualitative method with a descriptive approach. The findings reveal that the narrative contains forms of indirect expression, including displacing, distorting, and creating of meaning. These forms indicate that meaning is not conveyed directly, but through a system of signs that requires interpretation. Furthermore, through heuristic and hermeneutic readings, it is found that the meaning is not only literal but also reflects values of life, belief, and culture within the community that develop in the social life of the local society. Therefore, the narrative of the Keling Dance serves not only as a part of the performance but also as a medium that represents the system of meaning preserved and transmitted within society.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>indirect expression; Riffaterre; semiotics; Keling Dance</em></p> Nuril Hidayah Raras Hafiidha Sari Hak Cipta (c) 2026 Nuril Hidayah, Raras Hafiidha Sari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 364 369 10.25134/ajpm.v6i2.318 EKSPLORASI EPISTEMOLOGI TERHADAP NILAI SPIRITUAL TOKOH UTAMA DALAM NOVEL IKHLAS PENUH LUKA KARYA BOY CANDRA https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/326 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Karya sastra tidak hanya merepresentasikan pengalaman hidup, tetapi juga memuat nilai spiritual yang terbentuk melalui proses batin tokoh. Namun, tanpa pemahaman terhadap proses terbentuknya nilai tersebut, makna spiritual dalam karya sastra berpotensi dipahami secara dangkal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji epistemologi terhadap nilai spiritual tokoh utama dalam novel <em>Ikhlas Penuh Luka</em> karya Boy Candra. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Data penelitian berupa kutipan-kutipan yang merepresentaiskan pengalaman batin tokoh utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai spiritual yang ditemukan meliputi sikap ikhlas, memaafkan, tawakal, dan penerimaan terhadap kehidupan yang terbentuk melalui pengalaman hidup yang dipikirkan dan dimaknai. Secara epistemologis dalam sudut pandang Freire, proses tersebut menunjukkan adanya kesadaran kritis, <em>praxis</em>, dan humanisasi yang memperlihatkan bahwa pemahaman berkembang menjadi tindakan nyata. Dengan demikian, nilai spiritual dalam karya sastra tidak hanya dipahami sebagai hasil, tetapi juga sebagai proses membentukan yang melibatkan pengalaman, pemahaman, dan tindakan tokoh utama.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>epistemologi; nilai spiritual; novel; sastra</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>AN EPISTEMOLOGICAL OF THE SPIRITUAL VALUES OF THE MAIN CHARACTER THE NOVEL <em>IKHLAS PENUH LUKA</em> BY BOY CANDRA</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>Literary works do not only represent life experiences but also contain spiritual values formed through the inner processes of the characters. However, without an understanding of how these values are formed, the spiritual meaning in literary works may be interpreted superficially. This study aims to examine the epistemology of spiritual values of the main character in the novel Ikhlas Penuh Luka by Boy Candra. The method used in this study is descriptive qualitative. The data consist of quotations that represent the inner experiences of the main character. The results show that the spiritual values found include sincerity, forgiveness, trust in God (tawakal), and acceptance of life, which are formed through life experiences that are reflected upon and interpreted. From an epistemological perspective based on Freire’s view, this process indicates the presence of critical consciousness, praxis, and humanization, demonstrating that understanding develops into concrete action. Thus, spiritual values in literary works are not only understood as outcomes but also as processes of formation involving experience, understanding, and action of the main character.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>epistemology; spiritual values; novel; literature</em></p> Naftali Khairunnisa Mulasih Eko Sri Israhayu Akhmad Fauzan Hak Cipta (c) 2026 Naftali Khairunnisa, Mulasih, Eko Sri Israhayu, Akhmad Fauzan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 370 380 10.25134/ajpm.v6i2.326 ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES ATAS LAGU “DI AKHIR PERANG” NADIN AMIZAH https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/296 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian ini mengkaji makna yang terkandung dalam lirik lagu Di Akhir Perang karya Nadin Amizah dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Analisis semiotika Roland Barthes dalam penelitian ini menitikberatkan pada tiga tataran pemaknaan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam lirik lagu tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif interpretatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumentasi. Data penelitian diperoleh dari lirik lagu serta sumber pustaka yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna denotatif dalam lagu ini menggambarkan kondisi pascakonflik, makna konotatif merepresentasikan konflik batin dan luka emosional dalam hubungan interpersonal, sedangkan makna mitos membangun pemahaman budaya bahwa cinta dipersepsikansebagai perjuangan emosional yang sarat dengan pengorbanan dan penderitaan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian semiotika terhadap karya musik populer Indonesia.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>lirik lagu; semiotika Roland Barthes; denotasi; konotasi; mitos</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>ROLAND BARTHES’ SEMIOTIC ANALYSIS OF NADIN AMIZAH’S SONG “Di Akhir Perang”</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study examines the meaning contained in the lyrics of the song "Di Akhir Perang" by Nadin Amizah using Roland Barthes' semiotic theory. Roland Barthes' semiotic analysis in this study focuses on three levels of meaning: denotation, connotation, and myth, contained in the song's lyrics. The research method used is qualitative interpretative with data collection techniques in the form of documentation studies. The research data were obtained from the song's lyrics and relevant literature sources. The results show that the denotative meaning in this song depicts post-conflict conditions, the connotative meaning represents inner conflict and emotional wounds in interpersonal relationships, while the mythical meaning builds a cultural understanding that love is perceived as an emotional struggle filled with sacrifice and suffering. This research is expected to contribute to the semiotic study of Indonesian popular music.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>song lyrics; Roland Barthes` semiotics; denotation; connotation; myth</em></p> Dela Ayu Puspita Aditya Ansor Alsunah Lina Siti Nurwahidah Cecep Dudung Julianto Hak Cipta (c) 2026 Dela Ayu Puspita, Aditya Ansor Alsunah, Lina Siti Nurwahidah, Cecep Dudung Julianto https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 334 338 10.25134/ajpm.v6i2.296 TRANSFORMASI PEDAGOGI DIGITAL: PERSEPSI GURU TERHADAP PENGGUNAAN AI-GENERATED EDUCATIONAL VIDEOS DALAM PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/337 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Perkembangan <em>Artificial Intelligence</em> (AI) telah mendorong transformasi pedagogi digital dalam pendidikan, termasuk melalui penggunaan AI-generated educational videos dalam pembelajaran flipped classroom. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi persepsi guru terhadap penggunaan AI-generated educational videos dalam pembelajaran bahasa Inggris di madrasah dengan fokus pada kesiapan digital, efektivitas pedagogis, transformasi peran guru, dan tantangan implementasi teknologi AI. Penelitian menggunakan pendekatan mixed-method yang melibatkan guru bahasa Inggris dan 100 siswa dari dua madrasah dengan karakteristik berbeda, yaitu MAN 1 Mataram sebagai madrasah urban dan MA Fajrul Hidayah Al-Ma’arif NU Batujai sebagai madrasah semi-rural. Data kuantitatif diperoleh melalui angket skala Likert, sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki persepsi positif terhadap penggunaan <em>AI-generated educational videos</em> karena mampu meningkatkan efisiensi pembelajaran, keterlibatan siswa, dan implementasi pembelajaran yang lebih interaktif serta <em>student-centered</em>. Penggunaan <em>flipped classroom</em> juga mendorong perubahan peran guru dari penyampai materi menjadi fasilitator pembelajaran yang lebih aktif dalam membimbing diskusi dan kolaborasi siswa. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan sejumlah tantangan, seperti keterbatasan akses internet, perbedaan literasi digital, keterbatasan infrastruktur teknologi, serta kebutuhan adaptasi pedagogis secara berkelanjutan. Guru di MAN 1 Mataram menunjukkan tingkat kesiapan digital dan penerimaan teknologi yang lebih tinggi dibandingkan guru di MA Fajrul Hidayah Al-Ma’arif NU Batujai karena didukung infrastruktur dan pengalaman teknologi yang lebih baik. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa <em>AI-generated educational videos</em> memiliki potensi besar dalam mendukung transformasi pedagogi digital di lingkungan madrasah, meskipun keberhasilan implementasinya tetap memerlukan dukungan infrastruktur, kesiapan guru, dan pengembangan kompetensi digital secara berkelanjutan.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>AI-Generated Educational Videos; artificial intelligence; Flipped Classroom; pedagogi digital; persepsi guru</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>DIGITAL TRANSFORMATION PEDAGOGY: TEACHER’ PERCEPTION OF THE USE OF AI-GENERATED EDUCATIONAL VIDEOS IN FLIPPED CLASSROOM LEARNING</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>The development of Artificial Intelligence (AI) has accelerated the transformation of digital pedagogy in education, including through the use of AI-generated educational videos in flipped classroom learning. This study aims to explore teachers’ perceptions of the use of AI-generated educational videos in English language learning at madrasahs, focusing on digital readiness, pedagogical effectiveness, the transformation of teachers’ roles, and the challenges of AI technology implementation. The study employed a mixed-method approach involving English teachers and 100 students from two madrasahs with different characteristics: MAN 1 Mataram as an urban madrasah and MA Fajrul Hidayah Al-Ma’arif NU Batujai as a semi-rural madrasah. Quantitative data were collected through Likert-scale questionnaires, while qualitative data were obtained through semi-structured interviews and classroom observations. The findings reveal that teachers hold positive perceptions toward the use of AI-generated educational videos, as they enhance learning efficiency, student engagement, and the implementation of more interactive and student-centered learning. The flipped classroom approach also encourages the transformation of teachers’ roles from knowledge transmitters to learning facilitators who actively guide student discussions and collaboration. However, the study also identified several challenges, including limited internet access, differences in digital literacy, inadequate technological infrastructure, and the need for continuous pedagogical adaptation. Teachers at MAN 1 Mataram demonstrated higher levels of digital readiness and technology acceptance compared to teachers at MA Fajrul Hidayah Al-Ma’arif NU Batujai, supported by better infrastructure and greater technological experience. Overall, this study indicates that AI-generated educational videos have significant potential to support digital pedagogical transformation in madrasah contexts, although successful implementation still requires adequate infrastructure, teacher readiness, and continuous development of digital competencies.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>AI-Generated Educational Videos; artificial intelligence; Flipped Classroom; digital pedagogy; teacher perception</em></p> Titik Agustina Supardi Hak Cipta (c) 2026 Titik Agustina, Supardi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 249 264 10.25134/ajpm.v6i2.337 PSIKOLOGI SASTRA FREUD DALAM TOKOH-TOKOH NOVEL SAGARAS https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/324 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Dalam karya sastra, memahami dinamika kejiwaan tokoh dapat dipelajari melalui pendekatan psikologi sastra, khususnya teori psikoanalisis Sigmund Freud, yang meliputi id, ego, dan superego. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis struktur kepribadian tokoh-tokoh dalam novel <em>Sagaras</em> karya Tere Liye serta interaksi ketiganya dalam membentuk konflik psikologis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data berupa kutipan narasi dan dialog dalam novel yang dianalisis menggunakan teknik baca dan catat serta dianalisis melalui analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat variasi dominasi struktur kepribadian pada setiap tokoh. Tokoh Ali dan Raib didominasi oleh ego yang mencerminkan sikap rasional dan adaptif, sedangkan tokoh Seli dan Batozar didominasi oleh id yang menunjukkan kecenderungan impulsif dan emosional. Sementara itu, tokoh Kakek Ban didominasi oleh superego yang mencerminkan kepribadian yang matang dan berlandaskan nilai moral. Interaksi antara id, ego, dan superego berpengaruh terhadap intensitas konflik psikologis tokoh, di mana keseimbangan ketiganya menghasilkan kepribadian yang stabil, sedangkan ketidakseimbangan memicu konflik batin yang lebih kompleks. Dengan demikian, pendekatan psikoanalisis Freud efektif dalam mengungkap dinamika kejiwaan tokoh serta memperkaya pemahaman terhadap karakterisasi dalam karya sastra..</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>psikologi sasta; psikoanalisis Freud; novel Sagaras; konflik psikologis</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>FREUD'S LITERARY PSYCHOLOGY IN THE CHARACTERS OF THE NOVEL <em>SAGARAS</em></strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>In literary works, understanding the psychological dynamics of characters can be explored through the approach of literary psychology, particularly Sigmund Freud’s psychoanalytic theory, which encompasses the id, ego, and superego. This study aims to describe and analyze the personality structures of the characters in Tere Liye’s novel <em>Sagaras</em> as well as their interactions in shaping psychological conflicts. This study employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach. The data consist of narrative excerpts and dialogues from the novel, analyzed using the read-and-note technique and content analysis. The results indicate variations in the dominance of personality structures among the characters. The characters Ali and Raib are dominated by the ego, reflecting rational and adaptive attitudes, while the characters Seli and Batozar are dominated by the id, showing impulsive and emotional tendencies. Meanwhile, the character Kakek Ban is dominated by the superego, reflecting a mature personality grounded in moral values. The interaction between the id, ego, and superego influences the intensity of the characters’ psychological conflicts, where a balance among the three results in a stable personality, while an imbalance triggers more complex inner conflicts. Thus, Freud’s psychoanalytic approach is effective in revealing the characters’ psychological dynamics and enriching our understanding of characterization in literary works.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>literary psychology; Freudian psychoanalysis; Sagaras novel; psychological conflict</em></p> Aulia Wahyu Nur Saputri Laila Fitri Nur Hidayah Hak Cipta (c) 2026 Aulia Wahyu Nur Saputri, Laila Fitri Nur Hidayah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 402 415 10.25134/ajpm.v6i2.324 PENGEMBANGAN POWERPOINT INTERAKTIF BERBASIS SOCRATIC QUESTIONING DALAM PEMBELAJARAN CERITA PENDEK https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/334 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan media pembelajaran <em>PowerPoint</em> interaktif berbasis <em>Socratic Questioning</em> pada pembelajaran cerita pendek dalam mendorong kemampuan berpikir kritis siswa SMP kelas VIII. Metode yang digunakan adalah <em>Research and Development</em> (R&amp;D) dengan menggunakan model 4-D. Data penelitian diperoleh melalui hasil validasi ahli, uji coba terbatas, pretest, posttest, serta respon siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran dinyatakan layak dengan skor validasi media sebesar 98%, ahli materi 89%, ahli bahasa 90%, hasil belajar siswa dengan nilai rata-rata N-gain sebesar 0,82, serta dengan respon siswa sebesar 88,7% dengan kategori sangat baik. Dengan demikian, media <em>PowerPoint</em> interaktif berbasis <em>Socratic Questioning</em> layak digunakan dalam pembelajaran.</p> <p><strong>KATA KUNCI: </strong><em>cerita pendek;</em> <em>powerpoint interaktif; Socratic questioning</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>DEVELOPMENT OF INTERACTIVE POWERPOINT BASED ON SOCRATIC QUESTIONING IN SHORT STORY LEARNING</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study aims to determine the development of interactive PowerPoint learning media based on Socratic Questioning in short story learning in encouraging critical thingking skills of eight grade junior high school students. The method used is Research and Development (R&amp;D) using the 4-D model. Research data were obtained through epert validation results, limited trials, pretest, posttest, and student responses. The result showed that the learning media was declared feasible with a media validation score of 98%, material validation 89%, language validation 90%, students learning outcomes with an average N-gain value of 0,82%, and with student responses of 88,7% with a very good category. Thus, interactive PowerPoint media based on Socratic Questioning is feasible to be used in learning.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>interactive powerpoint; Socratic questioning; short story.</em></p> <p> </p> Roudlotul Aulia Ghufroni Elinda Umisara Hak Cipta (c) 2026 Roudlotul Aulia, Ghufroni, Elinda Umisara https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 265 272 10.25134/ajpm.v6i2.334 MOTIVASI BERPRESTASI TOKOH UTAMA DALAM NOVEL THE LAST STAR KARYA INTAN MULYANI KAITANNYA DENGAN PRASANGKA SOSIAL STUDI PSIKOLOGI SASTRA https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/322 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam keterkaitan antara motivasi berprestasi dengan prasangka social yang dialami tokoh utama dalam novel <em>The Last Star </em>karya Intan Muyani. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra. Sumber data berupa novel <em>The Last Star</em>, sedangkan data penelitian berupa kutipan-kutipan yang mengandung aspek motivasi berprestasi dan prasangka social. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui Teknik baca dan catat, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi berprestasi tokoh utama terbentuk melalui dua dimensi utama, yaitu, motivasi intrinsic tampak dalam bentuk, tekad, ketekunan, keberanian menghadapi risiko, serta komitmen tinggi terhadap cita-cita. Sementara itu, motivasi ekstrinsik muncul sebagai respons terhadap tekanan sosial berupa prasangka, diskriminasi dan stereotip negative dari lingkungan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa prasangka social tidak hanya berperan sebagai hambatan psikologis, tetapi juga bertransformasi menjadi faktor pendorong yang memperkuat motivasi berprestasi tokoh utama. Dengan demikian, terdapat hubugan dialektis antara tekanan sosial dan dorongan internal dalam membentuk karakter perjuangan tokoh.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>motivasi berprestasi; prasangka sosial; psikologi sosial; novel</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>ACHIEVEMENT MOTIVATION OF THE MAIN CHARACTERS IN THE NOVEL <em>THE LAST STAR </em>BY INTAN MULYANI IN RELATIONSHIP TO SOCIAL PREJUIDE STUDY OF LITERARY PSYCHOLOGICAL</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study aims to examine in depth the relationship between achievement motivation and social prejudice experienced by the main character in the novel <em>The Last Star</em> by Intan Muyani. This study uses a qualitative descriptive method with a literary psychology approach. The data source is the novel <em>The Last Star</em>, while the research data are in the form of quotations containing aspects of achievement motivation and social prejudice. The data collection technique was carried out through reading and note-taking techniques, while the data analysis used the interactive model of Miles and Huberman which includes data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of the study indicate that the main character's achievement motivation is formed through two main dimensions, namely, intrinsic motivation is seen in the form of determination, perseverance, courage to face risks, and a high commitment to ideals. Meanwhile, extrinsic motivation arises as a response to social pressure in the form of prejudice, discrimination and negative stereotypes from the environment. The findings of this study indicate that social prejudice not only acts as a psychological barrier, but also transforms into a driving factor that strengthens the main character's achievement motivation. Thus, there is a dialectical relationship between social pressure and internal drive in shaping the character's struggle.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>achievement motivation; social prejudice; social psychology; novel</em></p> Difia Wardani Eko Sri Israhayu Akhmad Fauzan Mulasih Hak Cipta (c) 2026 Difia Wardani, Eko Sri Israhayu, Akhmad Fauzan, Mulasih https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 381 392 10.25134/ajpm.v6i2.322 REDUPLIKASI BAHASA MELAYU RIAU DIALEK DESA KOTA BARU KECAMATAN RAKIT KULIM https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/332 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian ini membahas reduplikasi dalam Bahasa Melayu Riau dialek Desa Kota Baru Kecamatan Rakit Kulim Kabupaten Indragiri Hulu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk reduplikasi serta makna reduplikasi yang digunakan oleh masyarakat penutur asli Bahasa Melayu Riau dialek Desa Kota Baru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa ujaran lisan yang mengandung reduplikasi dan diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, teknik pancing, serta pencatatan lapangan terhadap tiga orang penutur asli. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebanyak 68 data reduplikasi yang terdiri atas empat bentuk reduplikasi, yaitu reduplikasi penuh, reduplikasi sebagian, reduplikasi berafiks, dan reduplikasi dengan perubahan fonem. Selain itu, ditemukan sebelas makna reduplikasi, yaitu menyatakan makna banyak, tak bersyarat, menyerupai, perbuatan berulang-ulang, perbuatan yang dilakukan dengan seenaknya, makna saling antara dua pihak, hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, makna agak, tingkat paling tinggi, intensitas perasaan, dan makna semu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reduplikasi dalam Bahasa Melayu Riau dialek Desa Kota Baru memiliki bentuk dan makna yang beragam serta masih digunakan secara aktif dalam komunikasi masyarakat sehari-hari. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian morfologi, khususnya mengenai reduplikasi dalam Bahasa Melayu Riau, serta menjadi salah satu upaya pelestarian bahasa daerah.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>reduplikasi; morfologi; bahasa Melayu Riau; dialek; makna reduplikasi</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>REDUPLICATION IN THE RIAU MALAY LANGUAGE, KOTA BARU VILLAGE, RAKIT KULIM SUBDISTRICT</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This research discusses reduplication in the Riau Malay language, Desa Kota Baru dialect, Rakit Kulim District, Indragiri Hulu Regency. This study aims to describe the forms of reduplication as well as the meanings of reduplication used by the native speakers of Riau Malay in the Desa Kota Baru dialect. The method used in this study is a qualitative descriptive method. The research data consisted of oral utterances containing reduplication and were obtained through observation techniques, interviews, elicitation techniques, and field notes from three native speakers. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Based on the results of the study, 68 instances of reduplication were found, consisting of four types of reduplication, namely full reduplication, partial reduplication, affixed reduplication, and reduplication with phoneme changes. In addition, eleven meanings of reduplication were found, namely indicating plurality, unconditionality, resemblance, repeated actions, actions done carelessly, reciprocal meaning between two parties, things related to work, approximate meaning, the highest degree, intensity of feelings, and pseudo meaning. The research results show that reduplication in the Riau Malay language of the Kota Baru Village dialect has diverse forms and meanings and is still actively used in daily community communication. This study is expected to enrich morphological studies, particularly regarding reduplication in Riau Malay, and to be one of the efforts in preserving local languages.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>reduplication; morphology; Riau Malay language; dialect; meaning of reduplication</em></p> Melisa Melisa Ahmad Faizi Hak Cipta (c) 2026 Melisa Melisa, Ahmad Faizi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 312 322 10.25134/ajpm.v6i2.332 NILAI MORAL TOKOH UTAMA FILM 1 KAKAK 7 PONAKAN KARYA YANDY LAURENS https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/319 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kajian nilai moral dalam film sebagai media refleksi kehidupan sosial yang masih belum banyak dikaji melalui pendekatan sosiologi sastra secara terintegrasi dengan teori moral. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menafsirkan nilai moral tokoh utama dalam film melalui perspektif sosiologi sastra dengan kerangka moral Franz Magnis Suseno. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik simak dan catat terhadap dialog serta adegan yang memuat nilai moral. Analisis dilakukan dengan mengelompokkan data ke dalam tujuh aspek moral, yaitu kejujuran, menjadi diri sendiri, tanggung jawab, kemandirian moral, keberanian moral, kerendahan hati, dan sikap kritis. Temuan utama menunjukkan bahwa tokoh utama merepresentasikan moralitas melalui tindakan pengasuhan keluarga, pengambilan keputusan berisiko demi orang lain, kemampuan mempertahankan prinsip, serta refleksi diri yang menunjukkan kedewasaan moral. Nilai tanggung jawab dan keberanian moral muncul sebagai aspek paling dominan karena berkaitan langsung dengan konflik ekonomi, keluarga, dan pekerjaan yang dihadapi tokoh. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa film mampu merepresentasikan moralitas sebagai praktik sosial yang konkret dan relevan dengan realitas kehidupan masyarakat, sehingga pendekatan sosiologi sastra efektif digunakan untuk mengungkap relasi antara karya film dan nilai kehidupan.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>film; Franz Magnis Suseno; nilai moral; sosiologi sastra; tokoh utama</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>MORAL VALUES OF THE MAIN CHARACTER IN <em>1 KAKAK 7 PONAKAN</em> BY YANDY LAURENS</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study motivated by the importance of examining moral values in film as a reflection of social life, which has rarely been explored through an integrated sociology of literature approach and moral theory. The purpose of this study is to describe and interpret the moral values of the main character in a film using the sociology of literature approach and Franz Magnis Suseno’s moral framework. The method employed is descriptive qualitative research using observation and note-taking techniques to collect dialogues and scenes containing moral values. The data were analyzed based on seven moral aspects: honesty, authenticity, responsibility, moral independence, moral courage, humility, and critical attitude. The main findings reveal that the main character represents morality through caregiving responsibilities, risk-taking decisions for others, the ability to uphold personal principles, and self-reflection that indicates moral maturity. Responsibility and moral courage appear as the most dominant aspects due to their close relation to economic, family, and professional conflicts faced by the character. The conclusion confirms that film can represent morality as a concrete social practice closely related to real life, and the sociology of literature approach is effective in revealing the relationship between film and social moral values.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>film; Franz Magnis Suseno; main character; moral values; sociology of literature</em></p> Hesa Cita Mulya Eko Sri Israhayu Akhmad Fauzan Mulasih Hak Cipta (c) 2026 Hesa Cita Mulya, Eko Sri Israhayu, Akhmad Fauzan, Mulasih https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 393 401 10.25134/ajpm.v6i2.319 EKSPLORASI STILISTIKA DALAM NOVEL THE ARCHITECTURE OF LOVE KARYA IKA NATASSA DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI MATERI AJAR SASTRA DI SMK https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/327 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian ini berfokus pada penguraian unsur-unsur stilistika dalam novel <em>The Architecture of Love </em>yang ditulis oleh Ika Natassa dan pemanfaatannya sebagai bahan ajar sastra di SMK. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika. Sumber data berasal dari novel <em>The Architecture of Love</em> karya Ika Natassa dan wawancara dengan guru Bahasa Indonesia serta siswa SMK. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik membaca, mencatat, dan wawancara, selanjutnya dianalisis dalam beberapa tahap yaitu reduksi data, klasifikasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa novel<em> The Architecture of Love </em>mengandung berbagai unsur stilistika yang meliputi diksi, gaya bahasa, dan citraan. Dalam hal diksi, ditemukan adanya penggunaan kata konkret, makna konotatif, sapaan dengan nama, diksi serapan, dan bahasa vulgar. Pada aspek gaya bahasa, teridentifikasi gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan. Di sisi lain, pada citraan terdapat citraan yang melibatkan penglihatan, pendengaran, gerak, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Penggunaan unsur-unsur stilistika tersebut berperan untuk memperkuat penggambaran karakter tokoh, menciptakan suasana, memperjelas konflik, dan menambah nilai estetika dalam novel. Selain itu, wawancara juga menunjukkan bahwa novel ini berhubungan erat dengan penggunaan sebagai bahan ajar sastra di SMK karena bahasanya yang komunikatif, tema yang relevan dengan kehidupan remaja, serta mendukung proses pembelajaran sastra dalam Kurikulum Merdeka, terutama pada Capaian Pembelajaran Bahasa Indonesia Fase F. Dengan begitu, novel <em>The Architecture of Love</em> tidak hanya memiliki keindahan sebagai karya sastra, tetapi juga menawarkan potensi pendidikan dalam pengajaran sastra di SMK.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>stilistika; novel; diksi; gaya bahasa; citraan; materi ajar sastra.</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>A STYLISTIC ANALYSIS OF IKA NATASSA’S NOVEL THE ARCHITECTURE OF LOVE AND ITS RELEVANCE AS LITERARY TEACHING MATERIAL IN VOCATIONAL HIGH SCHOOLS</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study focuses on analyzing the stylistic elements in the novel The Architecture of Love by Ika Natassa and their use as teaching materials for literature in vocational high schools. The method used in this study is qualitative descriptive with a stylistic approach. The data sources include Ika Natassa’s novel The Architecture of Love and interviews with Indonesian language teachers and vocational high school students. Data collection was conducted through reading, note-taking, and interviews, followed by analysis in several stages: data reduction, data classification, data presentation, and drawing conclusions. The findings indicate that the novel The Architecture of Love contains various stylistic elements, including diction, style, and imagery. Regarding diction, the study identified the use of concrete words, connotative meanings, direct address by name, loanwords, and vulgar language. In terms of writing style, rhetorical and figurative styles were identified. On the other hand, the imagery includes visual, auditory, kinetic, olfactory, gustatory, and tactile imagery. The use of these stylistic elements serves to strengthen the characterization of the protagonists, create atmosphere, clarify conflict, and enhance the aesthetic value of the novel. Furthermore, the interview results indicate that this novel is suitable for use as a literature teaching resource in vocational high schools because it features accessible language, themes that resonate with the lives of teenagers, and supports literature instruction under the Merdeka Curriculum, particularly in the Indonesian Language Learning Outcomes for Phase F. Thus, the novel The Architecture of Love not only possesses aesthetic value as a literary work but also holds pedagogical potential for literature instruction in vocational high schools.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>stylistics; novel; diction; style; imagery; literature teaching materials</em></p> Anindya Khawiswara Dewanti Prabandari Elisabeth Nugraheni Eko Wardani Hak Cipta (c) 2026 Anindya Khawiswara Dewanti Prabandari, Elisabeth Nugraheni Eko Wardani https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 300 311 10.25134/ajpm.v6i2.327 CAMPUR KODE PADA PROSES PEMBELAJARAN BAHASA SUNDA DI KELAS X SMAN 1 BEBER (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK) https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/314 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Kemampuan Bahasa yang bilingual dan multilingual menyebabkan terjadinya campur kode. Campur kode sering terjadi pada komunikasi, utamanya komunikasi pada saat pembelajaran di kelas pada guru dan siswa. Pada penelitian ini membahas campur kode yang terjadi dalam komunikasi pada saat pembelajaran basa Sunda di kelas X SMA Negeri 1 Beber. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengambilan data digunakan Teknik triangulasi (gabungan) yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil pada penelitian ini ditemukan 244 data bentuk campur kode yang dibagi menjadi tiga yaitu, 224 bentuk campur kode ke dalam, 7 bentuk campur kode ke luar, dan 13 campur kode campuran. Berdasarkan wujud campur ditemukan sebanyak 319 unsur yang dibagi menjadi enam yaitu, 127 unsur wujud kata, 120 unsur wujud frasa, 10 wujud baster, 38 wujud klausa, 1 wujud idiom, dan 23 wujud kata ulang. Selanjutnya mengenai faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode pada proses pembelajaran, berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan siswa ditemukan enam faktor pemyebabnya diantaranya yaitu, 1) faktor latar belakang bahasa yang di pakai di lingkungan keluarga, 2) faktor kebiasaan, 3) faktor pengaruh media sosial, 4) faktor kemampuan siswa ketika menggunakan Bahasa, 5) faktor bahasa yang bersifat multilingual, dan 6) faktor kebutuhan dalam pembelajaran.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>campur kode; bentuk; wujud; factor yang mempengaruhi</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>MIXED-CODE INSTRUCTION IN SUNDANESE LANGUAGE LEARNING IN GRADE 10 AT SMAN 1 BEBER (A SOCIOLINGUISTIC STUDY)</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>Bilingual and multilingual language skills lead to code mixing. Code mixing often occurs in communication, especially communication during classroom learning between teachers and students. In this study, we discuss the mixing of codes that occur in communication during learning Sundanese language in class X of SMA Negeri 1 Beber. In this study, a qualitative method with a descriptive approach was used. The data collection technique was used triangulation (combined) techniques, namely observation, interviews, and documentation. The results of this study found 244 mixed code form data which was divided into three, namely, 224 inward mixed code forms, 7 outward mixed code forms, and 13 mixed code mixed forms. Based on the mixed form, it was found that there were 319 elements divided into six, namely, 127 elements of word forms, 120 elements of phrase forms, 10 forms of baster, 38 forms of clauses, 1 form of idioms, and 23 forms of repetitions. Furthermore, regarding the factors that affect the occurrence of code mixing in the learning process, based on the results of interviews with teachers and students, six factors were found, namely, 1) the language background factor used in the family environment, 2) habit factor, 3) the influence factor of social media, 4) the ability factor of students when using the language, 5) the multilingual language factor, and 6) the factors of need in learning.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>mix code; shape; exist; influencing factors</em></p> <p> </p> Nandi Sanusi Muhamad Idris Nunuy Nurjanah Temmy Widyastuti Hak Cipta (c) 2026 Nandi Sanusi Muhamad Idris, Nunuy Nurjanah, Temmy Widyastuti https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 339 351 10.25134/ajpm.v6i2.314 REPRESENTASI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT MANDAR PADA CERPEN RUMAH BATU KAKEK SONGKOK KARYA LINA PW https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/325 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Indonesia mempunyai lebih dari 300 suku bangsa. Setiap suku bangsa memiliki kearifan lokal yang unik sehingga sering dijadikan tema cerita dalam beberapa karya satra. Salah satunya adalah cerpen <em>Rumah Batu Kakek Songkok</em> karya Lina PW yang diterbitkan pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) representasi bentuk kearifan lokal suku Mandar dalam cerpen<em> Rumah Batu Kakek Songkok</em> karya Lina PW; (2) fungsi kearifan lokal Mandar yang terepresentasikan dalam cerpen Rumah Batu Kakek Songkok karya Lina PW. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologi sastra. Sumber data penelitian ini adalah cerpen <em>Rumah Batu Kakek Songkok</em> karya Lina PW. Data penelitian ini berupa satuan-satuan cerita yang merepresentasikan kearifan lokal dalam cerpen. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian ini disimpulkan terdapat tiga bentuk kearifan lokal masyarakat Mandar, dalam cerpen <em>Rumah Batu Kakek Songkok</em> karya Lina PW, yaitu (1) wujud arsitektur; (2) aktivitas gotong royong (aktivitas kerjasama)<strong><em>;</em></strong> (3) dan makanan khas lokal.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>antropologi; kearifan lokal; masyarakat Mandar</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>A REPRESENTATION OF THE LOCAL WISDOM OF THE MANDAR COMMUNITY IN THE SHORT STORY <em>RUMAH BATU KAKEK SONGKOK</em> BY LINA PW’</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>Indonesia has more than 300 ethnic groups. Each ethnic group has a unique local wisdom that is often used as a story theme in several literary works. One of them is the short story <em>Rumah Batu Kakek Songkok</em> by Lina PW, which was published in 2018. This study aims to describe (1) the representation of the form of local wisdom of the Mandar tribe in the short story <em>Rumah Batu Kakek Songkok</em> by Lina PW; (2) the function of local wisdom of Mandar represented in the short story <em>Rumah Batu Kakek Songkok</em> by Lina PW. This study uses a qualitative descriptive method with a literary anthropology approach. The data source for this study is the short story <em>Rumah Batu Kakek Songkok</em> by Lina PW. The data for this study are in the form of story units that represent local wisdom in the short story. Data collection was carried out using documentation study techniques. Data analysis was carried out using content analysis techniques. The results of this study concluded that there are three forms of local wisdom of the Mandar people, in the short story <em>Rumah Batu Kakek Songkok</em> by Lina PW, namely (1) architectural form; (2) gotong royong activities (cooperative activities); (3) and local specialties.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>anthropology; local wisdom; Mandar society.</em></p> Ton Thi Thuy Trang Ho Ngoc Hieu Hak Cipta (c) 2026 Ton Thi Thuy Trang, Ho Ngoc Hieu https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 238 248 10.25134/ajpm.v6i2.325 EGO DAN SHADOW TOKOH UTAMA DALAM NOVEL AKU TAK MEMBENCI HUJAN KARYA SRI PUJI HARTINI (PERSPEKTIF PSIKOLOGI JUNGIAN) https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/290 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian ini memaparkan tentang dinamika kepribadian tokoh utama dalam novel <em>Aku Tak Membenci Hujan</em> karya Sri Puji Hartini yang terbit pada tahun 2023. Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis perkembangan karakter Karang dan Agha melalui perspektif psikologi, khususnya mengenai bagaimana pengalaman hidup membentuk pola pikir, perasaan, dan tindakan mereka. Dengan menggunakan metode kualitatif serta pendekatan deskriptif-interpretatif, hasil penelitian ini berupa pemaparan dan penafsiran mendalam terhadap teks novel. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca dan catat terhadap sumber data primer. Berdasarkan analisis, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, tokoh Karang digambarkan sebagai representasi aspek ego yang penuh dengan kesabaran, keikhlasan, dan tanggung jawab di tengah tekanan hidup. Kedua, munculnya tokoh Agha merupakan manifestasi dari sisi lain atau <em>shadow</em> yang menyimpan trauma, luka masa lalu, dan emosi yang tertekan. Ketiga, terdapat faktor-faktor signifikan yang memengaruhi perubahan kepribadian tokoh utama, yaitu faktor keluarga dan faktor lingkungan. Ketidakadilan serta kepahitan yang menimpa keluarga menjadi pemicu utama munculnya sisi gelap dan perubahan drastis dalam diri tokoh. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup dan konflik batin yang dialami tokoh sangat menentukan mereka dalam memilih langkah untuk bertahan hidup.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>Aku Tak Membenci Hujan; ego; Jungian; psikologi analitik; shadow</em></p> <p>&gt; </p> <p><strong>THE EGO AND SHADOW OF THE MAIN CHARACTER IN SRI PUJI HARTINI'S NOVEL <em>AKU TAK MEMBENCI HUJAN</em>: A JUNGIAN PSYCHOLOGICAL PERSPECTIVE</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study examines the personality dynamics of the main characters in the novel <em>Aku Tak Membenci Hujan</em> by Sri Puji Hartini, published in 2023. The primary focus of this research is to analyze the character development of Karang and Agha from a psychological perspective, particularly regarding how life experiences shape their thoughts, emotions, and behaviors. Employing a qualitative method with a descriptive-interpretative approach, this study presents in-depth descriptions and interpretations of the novel's text. The data were collected through reading and note-taking techniques using the novel as the primary data source. The findings reveal several important points. First, the character of Karang is portrayed as a representation of the ego aspect, characterized by patience, sincerity, and responsibility amid life's pressures. Second, the emergence of Agha represents the manifestation of the shadow self, embodying trauma, painful past experiences, and repressed emotions. Third, there are significant factors influencing the personality changes of the main character, namely family and environmental factors. The injustice and hardships experienced by the family serve as the primary triggers for the emergence of the character’s darker side and the drastic transformation of their personality. This study demonstrates that life experiences and internal conflicts play a crucial role in shaping the characters' decisions and strategies for survival.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>Aku Tak Membenci Hujan; analytical psychology; ego; Jungian; shadow</em></p> Eka Putri Febrianty Halimah Hs Idhoofiyatul Fatin R. Panji Hermoyo Hak Cipta (c) 2026 Eka Putri Febrianty Halimah Hs, Idhoofiyatul Fatin, R. Panji Hermoyo https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 416 433 10.25134/ajpm.v6i2.290 STRATEGI BERBAHASA DALAM AFILIASI TIKTOK DAILY ACTIVITY SERTA RELEVANSINYA TERHADAP MATERI BAHASA INDONESIA DI SMK SAQA https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/336 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan konten TikTok sebagai media komunikasi dan pembelajaran yang memanfaatkan bahasa persuasi secara kontekstual. Meskipun banyak kajian membahas bahasa di media sosial, masih terdapat kesenjangan dalam analisis mendalam terkait strategi bahasa persuasi pada konten afiliasi berbasis <em>daily activity</em> serta keterkaitannya dengan pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi bahasa persuasi dalam konten TikTok afiliasi dan menjelaskan relevansinya terhadap pembelajaran teks persuasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta analisis data melalui tahap kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini juga melakukan pengecekan keabsahan temuan yang meliputi tahap uji kredibilitas, dependabilitas, transferabilitas, dan confirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi bahasa tersusun melalui tiga unsur utama, yaitu kredibilitas penutur (<em>ethos</em>), kedekatan emosional (<em>pathos</em>), dan argumentasi logis (<em>logos</em>) yang terintegrasi dalam penyampaian pesan. Kredibilitas dibangun melalui pengalaman langsung, kedekatan melalui bahasa akrab dan situasi sehari-hari, serta logika melalui penyampaian manfaat yang praktis. Selain itu, temuan pada konteks pembelajaran menunjukkan bahwa konten TikTok digunakan sebagai media <em>audio-visual</em> yang membantu siswa memahami struktur teks persuasi secara lebih konkret dan kontekstual. Kesimpulannya, strategi bahasa dalam konten TikTok bukan hanya efektif dalam komunikasi <em>digital</em>, tetapi juga relevan sebagai media pembelajaran yang mampu meningkatkan pemahaman dan kemampuan analisis siswa.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>afiliasi; Bahasa Indonesia; daily acitivity; TikTok; strategi berbahasa</em></p> <p><strong>LANGUAGE STRATEGIES IN TIKTOK AFFILIATION DAILY ACTIVITIES AND THEIR RELEVANCE TO INDONESIAN LANGUAGE MATERIALS AT SAQA VOCATIONAL SCHOOL</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study was motivated by the increasing use of TikTok content as a medium for communication and learning that employs persuasive language in a contextual manner. Although many studies have examined language on social media, there remains a gap in in-depth analysis regarding persuasive language strategies in daily-activity-based affiliate content and their relevance to Indonesian language learning. This study aims to describe persuasive language strategies in TikTok affiliate content and explain their relevance to the learning of persuasive texts. The method used is a descriptive qualitative approach with data collection techniques consisting of observation, interviews, and documentation, as well as data analysis through the stages of condensation, presentation, and drawing conclusions. This study also conducted a validity check of the findings, which included the stages of credibility, dependability, transferability, and confirmability. The results indicate that language strategies are structured through three main elements: speaker credibility (ethos), emotional appeal (pathos), and logical argumentation (logos), which are integrated into message delivery. Credibility is established through firsthand experience, emotional appeal through familiar language and everyday situations, and logical argumentation through the presentation of practical benefits. Furthermore, findings in the learning context indicate that TikTok content serves as an audio-visual medium that helps students understand the structure of persuasive texts in a more concrete and contextual manner. In conclusion, language strategies in TikTok content are not only effective in digital communication but also relevant as a learning medium capable of enhancing students’ comprehension and analytical skills.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>affiliate; daily activity; Indonesian; language strategy; TikTok</em></p> Lailatul Rhomdania Endah Tri Wisudaningsih Ahmad Ilzamul Hikam Hak Cipta (c) 2026 Lailatul Rhomdania, Endah Tri Wisudaningsih, Ahmad Ilzamul Hikam https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 281 291 10.25134/ajpm.v6i2.336 RESEPSI PEMBACA TERHADAP CERPEN “KEBERANIAN MANUSIA” KARYA MOTINGGO BUSYE https://publication.uniku.ac.id/index.php/anafora/article/view/323 <p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian ini mengkaji resepsi pembaca terhadap cerpen “Keberanian Manusia” karya Motinggo Busye dengan fokus pada pemaknaan tema, tokoh, dan amanat. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya peran pembaca dalam pendekatan resepsi sastra, di mana makna karya tidak hanya ditentukan oleh pengarang, tetapi juga oleh pembaca. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pembaca memahami nilai keberanian dalam cerpen tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui angket yang disebarkan kepada responden. Data dianalisis melalui tahap identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi terhadap tanggapan pembaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 85% pembaca mampu memahami tema, tokoh, dan amanat dengan baik. Tema keberanian dimaknai sebagai ketahanan diri dan kekuatan mental dalam menghadapi situasi sulit. Tokoh utama dipersepsikan sebagai representasi kepolosan anak yang dipengaruhi lingkungan, sedangkan tokoh tambahan memperkuat konflik dan alur cerita. Amanat dalam cerpen dinilai mudah dipahami karena disampaikan secara jelas melalui konflik dan penggunaan bahasa yang sederhana. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemaknaan pembaca bersifat beragam, namun tetap mengarah pada nilai keberanian sebagai sikap pantang menyerah dalam kehidupan.</p> <p><strong>KATA KUNCI:</strong> <em>amanat; cerpen; keberanian; pembaca; resepsi sastra</em>&gt;</p> <p><strong>READER RECEPTION OF THE SHORT STORY “KEBERANIAN MANUSIA” BY MOTINGGO BUSYE</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study examines reader reception of Motinggo Busye's short story "Human Courage," focusing on the interpretation of the theme, characters, and message. The background of this research is based on the importance of the reader's role in literary reception, where the meaning of the work is determined not only by the author but also by the reader. The purpose of this study is to determine how readers understand the value of courage in the short story. The method used is descriptive qualitative, with data collection using a questionnaire distributed to respondents. Data were analyzed through the stages of identification, classification, and interpretation of reader responses. The results indicate that approximately 85% of readers were able to understand the theme, characters, and message well. The theme of courage is interpreted as resilience and mental strength in facing difficult situations. The main character is perceived as representing the innocence of children influenced by their environment, while supporting characters strengthen the conflict and storyline. The message in the short story is considered easy to understand because it is conveyed clearly through conflict and simple language. The conclusion of this study shows that reader interpretations are diverse, but they all point to the value of courage as an attitude of never giving up in life.</p> <p><strong>KEYWORDS: </strong><em>courage; literary reception; readers; short stories</em></p> Andini Novelia Agus Lukmanul Khakim Cachia Yasa Putri Minda Melinda Silfaningsih Wildan Adi Sarifudin Deny Kurniawan Hak Cipta (c) 2026 Andini Novelia, Agus Lukmanul Khakim, Cachia Yasa Putri Minda, Melinda Silfaningsih, Wildan Adi Sarifudin, Deny Kurniawan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-10 2026-06-10 6 2 352 363 10.25134/ajpm.v6i2.323